Tidak ada yang sempurna dari sebuah hubungan..
Pun pada diri manusia..
Yang termaghtub pada kitab Allah,
seperti apa karakter dan sifat pasangan kita.. Maka lihatlah diri kita.
Layaknya kita bercermin.

Cerita inspiratif kali ini berkisah tentang sepasang suami isteri yang berusaha tetap istiqomah dalam bersedah.

Walau ada salah satu dari mereka yang sempat lalai atau alpha, namun dari mereka selalu saling mengingatkan.

Bahwa pemasukan yang mereka terima harus dikeluarkan saat itu juga.
Tidak banyak yang bisa diperoleh informasi dari pasangan tersebut
“kami malah malu”
“malu kenapa mas? ” saat saya tanyakan mengenai kegemarannya bersedekah.
“malu sama yang Maha Kaya”

Setelah beberapa kali pertemuan, barulah kami ketahui bahwa pasangan tersebut bukan hanya bersedekah untuk Laskar Sedekah Semarang saja.

Namun mereka juga rutin menyalurkan sedekah bulanan dan zakat penghasilan mereka ke lembaga-lembaga islami atau yayasan panti asuhan.
Dan bahkan, saat mereka sedang dalam perjalanan, sedekah tersebut langsung diserahkan tanpa berpikir lagi.

“memang dirumah selain celengan odot dari kamu, saya juga punya celengan khusus untuk sedekah dan zakat penghasilan saya dan isteri” Terangnya, saat kami memdesak kiatnya untuk tidak lupa bersedekah.

Walau mereka sudah dikategorikan orang yang tidak lupa sedekah, namun bagi sang suami kegiatan tersebut dirasa masih jauh dari sempurna.
“Harusnya uang sedekah itu rutin dikeluarkan sebulan sekali atau bahkan seminggu sekali” Terangnya saat itu.

“Jujur kadang saya lupa, kadang saya juga sibuk”
Sedekahnya Ia keluarkan lima minggu sekali, atau bahkan enam hingga tujuh minggu sekali.
“Mungkin cara kami kurang tepat, tapi Wallahu a’lam bisshowab..”

Ya.. Sebaik-baik manusia adalah orang yang mau memperbaiki dirinya setiap saat.. Setip waktu..

“Innamal A’malu Binniat Wa Innama Likullimriin Ma Nawa…Yg penting niat kami, selebihnya hanya Allah Yg Maha Tau” tambahnya.

Masih ingat dalam ingatan, pasangan tersebut berhasil memecah rekor dalam donasinya yang mencapai Rp. 3.000.000,- didalam celengan odot, hanya dalam 1 bulan saja.
“Mungkin saat itu pas Allah kasih rezeki berlebih sama saya dan isteri” Terangnya.
Walau demikian, sikap rendah hatinya tetap Ia tonjolkan.

Memang bukan seorang yang sempurna, namun Ia bisa dikategorikan suami idaman.

Tidak malu, ia ceritakan bahwa setiap pemasukan dan pengeluaran pribadinya selalu Ia konsultasikan bersama sang isteri.

“Termasuk suami takut isterikah?” tanya saya
“Hahaha…mungkin” kelakarnya.

Dan biar bagaimanapun keadaannya Ia selalu mengucapkan alhamdulillah, karena sang isteri pula yang membuat Ia selalu ingat Yang Maha Kaya.

“Alhamdulillah.. Keluarga isteri dan saya dibentuk dari keluarga dan lingkungan yang religius, jadi sampai usia pernikahan kami yang ke-9, tidak ada batu sandungan apalagi pertengkaran”.

Masya Allah.. Sungguh pernikahan yang diimpikan oleh setiap insan, walau bukan angka yang terbilang lama dalam mengecap pernikahan, namun juga bukan hal yang mudah dalam mempertahankan pernikahan yang selalu harmonis walau sudah menginjak usia ke 9.

“doakan kami agar segera mempunyai anak yang kedua ya” Tutupnya.

Banyak hal yang bisa kita petik hikmahnya dari seorang pedekar LS Semarang ini.
Bahwa lingkungan, pergaulan terutama keluarga sangat mempengaruhi pembentukan karakter seseorang.

Apabila kita menginginkan pasangan yang baik.. Maka per”baik”ilah akhlak diri kita.
Apabila kita menginginkan pasangan yang sholehah.. Maka soleh-kanlah diri kita.

Semoga Allah senantiasa selalu membimbing niat baik kita…dan selalu menjaga diri kita dari hal-hal yang tidak kita inginkan.