Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Mbah sarip, mengingat usianya telah beranjak 80 tahun.

Sedangkan Ia tinggal seorang diri, tanpa anak dan istri.

Hanya adik ipar yang masih berkenan menampung dirinya.

Sudah lama Mbah Sarip tidak punya penghasilan. Sehari-hari kebutuhan makannya sangat bergantung pada adik iparnya.

Kediaman Mbah Sarip hanya seluas ukuran kamar yang sempit, atap yang telah bocor.

Untuk menutupi kebutuhannya Beliau kadang menjual telur ayam, dan tentu saja tidak seberapa yang Ia dapatkan.

 kalcar

Saat matahari hendak terbenam, pasukan Laskar Sedekah memberikan santunan kepada Mbah Sarip berupa uang tunai Rp. 200 ribu dan beras sebanyak 20kg di kediamannya

Semoga sedekah yang diberikan oleh donatur Laskar Sedekah, memberi manfaat bagi Mbah Sarip.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah (S.A.W.), “Sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi (S.A.W.) menjawab, “Saat kamu bersedekah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga ruhmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)