2bd869a14befc58f9a754de2fdb6362d

Sedekah Online-Laskar Sedekah. Hari masih pagi ketika jarum jam masih menunjukkan pukul 07.00. Anak-anak sekolah sudah wira-wiri mengisi hiruk pikuk jalanan Jogjakarta dan para petani baru mengangkat cangkul mereka. Tak terkecuali dengan seorang supir ambulance yang sudah siap untuk memacu mobilnya melewati ramainya jalanan Jogjakarta. Beliau adalah pak Satiman, salah satu dari beberapa sopir ambulance LaskarSedekah.com. beliau termasuk sebagai seorang supir ambulance yang paling aktif dan paling sering mengantar pasien ke rumah sakit.

Pagi itu pak Satiman harus menjemput salah satu pasien yang bertempat tinggal di daerah Cebongan, Sleman. Jalanan waktu itu ramai dan penuh sesak, sulit untuk bisa cepat sampai ke tujuan. Akan tetapi Pak Satiman tidak kehabisan akal, beliau memilih melewati jalan kampung yang cukup sepi. Memang sebagai seorang sopir ambulance beliau dituntut untuk bisa cepat dan tepat sampai ke tujuan. Sesampainya di tujuan beliau sudah disambut oleh pasien tersebut. Pasien ini harus diantarkan ke salah satu rumah sakit swasta di daerah Gamping untuk cuci darah. Dan ternyata antara Pak Satiman dan pasien tersebut sudah saling mengenal karena beliau memang sudah sering diantar oleh Pak Satiman.

Di dalam mobil, beliau masih sempat bercengkrama dengan pasien tersebut. Ini yang menjadikan sosok pak Satiman sebagai orang yang ramah. Dengan siapapun beliau akan selalu melemparkan senyum, mengajak bersenda gurau, sekalipun beliau dikejar oleh waktu. Kira-kira 10 menit mobil ambulance yang kami tumpangi sudah ‘mendarat’ di halaman RS tersebut. Pak Satiman terus bergegas untuk membukakan pintu samping untuk keluar pasien. Karena cuci darah memerlukan waktu yang lama maka Pak Satiman lebih memilih untuk berpamitan dengan pasien tersebut karena masih ada beberapa pasien yang harus diantarkan oleh beliau hari itu juga.

Walaupun sudah tidak muda lagi, Pak Satiman masih tetap lincah mengemudikan ambulance, padahal basic beliau bukan seorang supir ambulance tetapi sopir travel. Akan tetapi kemampuan beliau memutar setir tidak bisa diragukan lagi, karena jam terbang beliau di belakang kemudi memang sudah banyak. Pak Satiman juga bekerja dari hati, beliau tidak mau diberi imbalan sepeser pun jika mengantar pasien. Pernah suatu kali beliau mendapatkan orderan untuk mengantarkan orang ke pantai untuk berlibur, akan tetapi hari itu juga beliau harus mengantar pasien. Dan beliau lebih memilih untuk mengantarkan pasien. Padahal jika lebih memilih untuk mengatarkan orang liburan sudah tentu rupiah di tangan. Kata Pak Satima, jika uang gaji hasil bekerja di travel itu akan habis sedangkan ‘uang’ hasil mengantarkan pasien itu tak akan habis sampai kapanpun. Ini yang patut kita contoh, terkadang kita terlalu sibuk mengejar uang dunia sedangkan ‘uang’ akhirat kita lupa.

Banyak juga yang tak tahu kalau Pak Satiman adalah seorang muallaf. Walaupun seorang muallaf beliau sudah rajin beribadah termasuk bersedekah. Akan tetapi bukan dengan uang beliau bersedekah melainkan dengan tenaga dan kemampuan yang beliau miliki, yaitu dengan menjadi sopir ambulance. Saat ini bersama dengan istrinya, Pak Satiman membuka usaha kayu bakar di rumahnya, di dusun Ngentak, Margoluwih, Seyegan, Sleman, tidak jauh dari omah laskar.

Inilah sedikit cerita tentang seorang supir ambulance yang sangat tulus menjalankan tugasnya. Bukan uang yang beliau cari akan tetapi pahala dan ridho dari Allah SWT. Suatu hal yang sudah jarang kita temui saat ini. Dan mari kita doakan bersama semoga usaha pak Satiman lancar dan berkembang, dan juga semoga beliau diberikan keteguhan Iman agar bisa Istiqomah dan tetap mengabdi untuk umat. Aamiinn

(choyru)