
(Report by: Listiana Putri W, LS)
“Air adalah sumber kehidupan. Kita harus menjaganya.” Begitulah tulisan yang tertera di sebuah papan kayu di tengah sawah saat mulai memasuki wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Hal itu seakan menyiratkan bahwa sungguh berharganya tiap tetes air. Terkhusus bagi masyarakat di Kabupaten Gunung Kidul. Kabupaten yang mahsyur dengan kondisinya yang kerap kekurangan air bahkan mengalami bencana kekeringan. Terlebih apabila menengok topologi alamnya yang penuh dengan bukit karst. Keadaan ini juga menjadi salah satu pemicu datangnya bencana yang telah menahun ini. Dan puncaknya adalah apabila musim kemarau tiba. Daerah-daerah di kabupaten yang masyarakatnya mayoritas masih mengkonsumsi thiwul ini akan mengalami kesulitan dalam mencari air bersih. Diantaranya adalah beberapa daerah seperti Kecamatan Purwosari, Panggang, Gedongsari, dan Saptosari, serta daerah lain di sekitarnya.

Hal ini, tentu menggerakkan hati kami, laskarsedekah.com, untuk memudahkan kesulitan yang mereka hadapi. Berkat bantuan dan kerjasama dari Pendekar Sedekah, kami berhasil menghimpun dana Rp 4.482.100,00. Dana tersebut 100% kami salurkan kepada masyarakat di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Didampingi oleh Tagana –Tim Tanggap Bencana– Kabupaten Gunung Kidul, Sabtu pagi (8/9) kami mengawasi dan terjun langsung dalam pendistribusian ke beberapa lokasi yang mengalami kesulitan dalam hal air bersih. Diantaranya adalah di Kelurahan Girikarto, Kecamatan Panggang dan Dusun Gabuk, Kelurahan Giricahyo, Kecamatan Purwosari. Dana yang terkumpul sepenuhnya kami amanahkan kepada Tagana Kabupaten Gunung Kidul yang selanjutnya akan diwujudkan dalam bentuk air bersih. Untuk seterusnya akan didistribusikan ke daerah-daerah yang terkena bencana kekeringan.
Apabila memandang di sekeliling, yang tampak mayoritas adalah pohon-pohon jati yang menancap di batuan karst dan mulai gugur daunnya. Di selanya, di beberapa lokasi, masih tampak hamparan sawah yang hijau, seperti di daerah Kecamatan Karangmojo. Walau demikian, kekeringan tak lantas luput menghindar dari wilayah tersebut. Begitupula dengan daerah Kecamatan Ponjong, walau nampak asri di sebelah timur tetapi kekeringan tetap saja menjamah bagian atas wilayahnya.

Lalu, sebenarnya apa yang menjadikan kawasan yang mayoritas penduduknya masih mengkonsumsi thiwul ini kerap disinggahi oleh bencana kekeringan? Tentu yang pertama karena medannya yang berupa tanah dan batuan karst. Selanjutnya dikarenakan oleh eksplorasi sumber mata air yang belum bisa maksimal. Padahal, kandungan air tanah di wilayah ini sebenarbya melimpah, begitu tegas Bapak Budiman, koordinator Tagana Kabupaten Gunung Kidul. Juga karena hilangnya sumber mata air pascagempa Jogja 2006 atau berkurangnya debit air di sumber. Selain itu, karena terkadang pendistribusian terhalang oleh alam. Yakni adanya tanah yang longsor atau jalan yang sempit sehingga tidak dapat dilalui kendaraan.
Untuk menciptakan senyuman di sana memang medan yang dilalui tak selurus jalan tol. Kami harus mendaki pegunungan –tentunya mengendarai mobil– yang cukup terjal dan berkelok untuk sampai di wilayah selatan Propinsi DI Yogyakarta tersebut. (Lp)