Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Mbah Sairi dalam kesehariannya. Dulu, Ia menjalani profesi sebagai buruh bongkar muat pasir truk dan batu kali, namun di usianya yang sudah menginjak 70 tahun, fisiknya sudah tidak memungkinkan lagi dan hanya bisa banyak beristirahat dirumahnya Jl. Genuk Sriwijaya.
Sejak ditinggal istrinya menghadap Illahi tahun 1980, Mbah Sairi enggan untuk menikah lagi dan hidup sendiri.. Alhamdulillah sudah tiga bulan terakhir, Mbah Sairi ditemani oleh seorang keponakan yang menetap di rumahnya.
Karena papannya yang “kurang” dibanding warga lain, tetangga sekitar berinisiatif membangun rumah Mbah Sairi agar lebih layak dan nyaman untuk ditinggali.
Dan di minggu pertama awal bulan januari, Laskar Sedekah memberikan santunan kepada Mbah Sairi berupa paket sembako senilai Rp 150 ribu dan uang tunai senilai Rp 300 ribu.
Rasulullah saw bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا وَلَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلَمْ يَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukanlah golongan kami orang muda yang tidak menghormati orang tua, orang tua yang tidak menyayangi anak muda, dan orang yang tidak mengetahui hak orang alim”.
LS Semarang: SALAM ACTION !!!
